INDAH DIMATA-NYA
Bagian 1: Mengaguminya
Pernahkah kalian merasa kehilangan arah? Seperti hidup tidak ada lagi tujuan. Dan akhirnya kalian melampiaskan kegalauan dengan melakukan sesuatu yang kalian senangi saat itu juga. Padahal tidak tahu apakah jalan itu benar atau tidak. kalian berharap tinggi dengan kesenangan itu
Untuk diriku sendiri, aku pernah mengalaminya. Semua berawal dari cia-citaku.
***
Ketika aku kecil, jika ditanya kamu cita-cita ingin jadi apa? Selalu ku menjawab, insinyur. Serta merta kata itu tiba-tiba keluar dari mulut seorang anak yang tidak tahu insinyur itu apa. Dari dulu selalu ada bisikan "Insinyur" yang entah dari mana asalnya. Seiring berjalannya waktu, cita-cita menjadi insinyur mulai memudar, yang kemudian digantikan oleh arsitek. Cita-cita menjadi arsitek datang dalam kehidupanku sama seperti halnya insinyur. Melalui bisikan yang awal mulanya tidak diketahui.
Waktu yang terus berputar menjadikanku sebagai sosok remaja yang sifatnya labil. Saat itu aku berada pada usia yang sudah dapat membedakan mana yang benar dan salah. Mulai mengerti sedikit demi sedikit maksud dan pemikiran orang dewasa, termasuk suka terhadap lawan jenis. Pada usia dengan keputusan yang masih labil itu, aku mulai mencari-cari apa itu arsitek. Sedikit ku mengetahui perngertian darinya menjadikan awal mula benih keinginan menjadi arsitek tertanam dalam hati.
Suatu ketika aku datang mengunjungi rumah adik dari ibu, dimana dia memiliki rumah dengan desain bangunan yang unik. Aku kagum dengannya. Dia adalah seseorang dengan profesi sebagai ibu rumah tangga yang selalu menuangkan segala imajinasinya menggunakan potensi yang dimilikinya. Dia pandai melukis. Aku ingin seperti dia. Menjadi ibu rumah tangga yang dapat menemani anaknya seharian penuh, dan menjadikan potensi yang dimilikinya semaksimal mungkin agar dapat membantu suami dalam menutupi kebutuhan ekonomi. Kembali dengan desain rumah miliknya. Merancang hunian sendiri yang asalnya dibentuk dari imaji, mulai dari tataletak hingga properti-properti yang digunakan sebagai hiasan rumahnya. Mungkin orang mengira dia adalah desainer, tapi pada kenyataannya dia adalah seorang wanita yang tidak menyelesaikan kuliahnya dan memilih kenyamanan dalam melukis. Sungguh disayangkan, seseorang dengan kepandaian yang dimiliki merelakan studinya pada jurusan kedokteran gigi dan memilih kursus melukis untuk memuaskan hati. Tapi aku juga tidak berhak untuk menilainya, karena aku tidak tahu apapun tentang segalanya.
Dari kunjungan itulah cita-cita menjadi arsitek terpupuk dalam hati ini serta menjadi awal keraguanku terhadap cita-cita yang kian tumbuh dan berkembang.
#komunitasonedayonepost
#ODOPbatch6
#Day-8
Komentar
Posting Komentar