MIMPI TERPENJARA



Memori itu muncul kembali menyapa malamku yang terasa hampa. Perasaan lelah mulai ku lampiaskan dengan merebahkan badan di atas kasur tercinta. Mata ini masih menatap. Perlahan-lahan pandangan mulai merayap ke setiap sudut ruang kamarku yang redup. Hanya ada deretan kerlipan cahaya yang menyelip pada tali membentuk zig zag. Pandanganku mulai terhenti ketika sebuah ingatan muncul secara tak sengaja. Ingatan dimana dia mencurahkan segala isi hatinya padaku dan seseorang yang duduk disebelahnya pada tempo itu.

Aku mengenalnya. Dia adalah teman seperjuanganku ketika duduk dibangku SMA. Panggil saja dia Langit. Tentulah langit bukan nama aslinya, hanya sebuah panggilan teka-teki untuknya. Aku yang saat itu duduk didepan Langit dan temanku yang bersanding dengannya, terpisah dengan sebuah meja yang permukaannya berbentuk persegi tepat didepan kami. Ada tiga macam minuman dan dua jenis makanan diatas meja itu, sayangnya aku sudah melupakannya. Ku nikmati segala yang disuguhkan sambil mendengarkan curhatan Langit.

Awalnya Lagit sama sekali tak ada niatan untuk mencurahkan hatinya pada kami. Kami berbincang dengan topik kegiatan kami di kuliah. Maklum karena kami baru beranjak dari semester dua, dan masih merasa jadi mahasiswa baru. Kami menceritakan segala kegiatan yang kami lakukan pada saat semester satu dan dua, mulai dari mata kuliah hingga kegiatan lainnya. Mendengar cerita mereka yang lumayan seru, tiba-tiba datang sebuah bisikan yang membuatku bertanya kembali pada diriku dengan tatapan mata yang hampa. “Apa kamu sudah merasa nyaman di jurusanmu ini Naf?”. Seketika lamunanku buyar ketika Langit menceritakan usahanya dalam meraih apa yang ia inginkan. Ya, dia baru saja lolos masuk program studi yang dia inginkan dengan perguruan tinggi yang berbeda dari tahun sebelumnya dan otomatis dia akan menjadi mahasiswa baru lagi. Dia lolos masuk fakultas kedokteran pada salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Nah ini yang membuatku kagum dengan ceritanya. 

Apa yang indah dari ceritanya hingga membuatku takjub? Apa hanya karena dia masuk fakultas kedokteran?. Salah satunya itu, tapi yang perlu digaris bawahi adalah mimpinya. Mungkin beberapa orang ada yang berfikir masuk kedokteran di perguruan tinggi swasta itu mudah, apalagi kalau kamu punya uang lebih. Hanya orang-orang berduitlah yang bisa masuk fakultas bergengsi itu, atau mungkin dia orang yang sangat pandai. Wow, orang berduit? tidak juga. Temanku ini hanyalah orang biasa yang kehidupannya alhamdlulillah tercukupi. Jika dikatakan pandai, dia lebih cocok dengan orang yang rajin. Ingat, orang rajin bisa menjadi pandai, tapi orang pandai belum tentu rajin. Nah dengan sikapnya yang rajin nan gigih inilah bisa mengantarkan pada fakultas bergengsi di perguruan tinggi swasta. Itu bisa jadi pengantar yang membuatku takjub. Tapi masih ada alasan lainnya yang membuatku lebih terheran-heran. 

Siapa bilang masuk perguruan tinggi swasta itu mudah, ya kalau dia memang bisa lewat jalur belakang. Setelah ku mendengar cerita perjuangan Langit untuk mendapatkan posisi itu, mungkin bisa sedikit merubah pikiran orang yang bilang masuk perguruan tinggi swasta mudah. Mengapa mimpi Langit membuat ku takjub?. Beginilah cerita Langit yang sesungguhnya demi mendapatkan kursi di fakultas bergengsi itu. Sudah kukatakan jika langit adalah teman seperjuanganku di SMA yang berarti dia adalah teman satu angkatan denganku. Mimpi dia untuk menjadi seorang dokter itu sudah lama tertanam dalam dirinya. Saat dia masih di bangku SMA, dia tanpa ada keraguan selalu mantap dengan mimpinya. Dia tidak pernah memikirkan dimana dia akan belajar, dia hanya ingin menjadi dokter. Entah di perguruan tinggi swasta ataupun negeri itu sama saja baginya. Namun sayang, saat kami sudah dinyatakan purnasiswa, dia harus memenjarakan mimpinya dalam hatinya selama satu tahun. Kegagalan terus menghampirinya. Dia sudah gagal dalam tes pada tahun 2017 sebanyak 7 kali dan harus mulai memutar otak untuk memilih jurusan lainnya, hingga dia lolos di tempat yang bukan mimpinya. Dia jalani perkuliahan sambil belajar me-review pelajaran SMA. Fokus pada mimpi yang belum ia capai. Hingga ujian masuk perguruan tinggi tahun 2018 dimulai. Dia mendaftarkan dirinya kembali di jurusan yang diinginkannya, masih saja gagal meghampirinya. Selama kegagalan datang, dia pernah hampir putus asa, dia tidak berani menatap mata kedua orang tuanya karena merasa telah mengecewakan bagi mereka. Bagaimana tidak mengecewakan? Berapa uang yang dia keluarkan hanya untuk pendaftaran?. Mungkin sudah 2 juta lebih. Hingga pada pendaftaran yang hampir akhir, dia pasrahkan semuanya kepada Allah, selalu berdoa kepada-Nya. Allah pun mendengar panggilan hambanya. Langit akhirnya lolos dan mencapai apa yang ia impikan dari dulu. Dia bisa mulai menggapai perlahan cita-citanya. Walaupun telah mengorbankan semua rasa, pikiran, dan waktu hanya untuk mimpinya. Dia lolos pada tes yang ke-11. Apakah kamu kaget?. Jika ya, mungkin ekspresi ku dengan mu hampir sama. Bagaimana, takjub bukan?. Menggapai awal cita-citanya tanpa melihat dari mana ilmu yang di dapat. Perguruan swasta atau negeri pun sama saja baginya. Yang terpenting dia keukeuh dengan apa yang di inginkannya. Dari ceritanya aku mulai mengingat bahwa seseorang telah berkata padaku “bermimpilah sesuatu yang gila, agar anda gila-gilaan dalam mencapainya”. Agak aneh sih kalimatnya, tapi boleh juga.

Aku masih berbaring di atas kasur sambil menatap cahaya berkelip. “apakah sebenarnya cita-citaku? Aku seperti kehilangan arah, tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak berada sesuai apa yang ku inginkan. Apakah aku perlu memutar otak? Merangkai cita-cita dari awal, dan percaya bahwa Allah selalu memiliki rencana yang lebih baik untuk hambanya.” Kupejamkan mata perlahan-lahan, merenungkan semua yang telah terjadi, dan membuat mimpi yang baru di balik pejaman mataku.

#komunitasonedayonepost
#ODOPbatch6
#Day-3

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SENJA MERONA

INDAH DIMATA-NYA

MENELAN DUSTA