MENELAN DUSTA
Bagian 2
Sania menatap wanita yang berdiri dengan tumpuan lutut didepannya. ia kaget, perasaan iba muncul dalam hatinya, segera mungkin Sania membantu menyusun buku millik wanita yang ia tabrak dan memberikannya. Dengan senyuman cantik diwajahnya, wanita buta tersebut berterimakasih pada Sania.
Beberapa saat setelah mereka berdiri bersama. Wanita dengan perawakan badan yang mini, tubuhnya dibaluti gamis cantik berwarna hijau memperlihatkan keanggunannya, dia berjalan menjauhi Sania dengan tangannya yang meraba-raba sekitar agar tidak terjatuh akibat sesuatu yang menghalanginya. Sania menoleh sedikit kebelakang dengan wajah yang waswas.
Langkah kaki dengan sedikit ragu tampak jelas dari wanita yang ditabrak Sania beberapa saat lalu. Tangannya dengan pelan meraba sekitar, mengira-ngira jalan yang ia tentukan. Tibatiba langkahnya terhenti dan menghadapkan badan kearah jalan yang biasa dilintasi oleh kendaraan bermotor. Wajahnya terlihat sangat fokus.
“tinnnn.” Klakson dari sebuah motor terdengar nyaring. Seseorang dengan spontan menarik lengan wanita buta itu yang hampir saja tertabrak. Ia salah mengira dalam menentukan waktu yang tepat hendak menyeberang.
“Terimakasih.” Lagi kata itu keluar dari bibir manisnya. Ia tidak mengetahui jika yang menyelamtkan nyawanya adalah Sania. Ya, Sania mengikuti wanita yang diberi rasa ibanya setelah mengetahui wanita yang ia tabrak merupakan seorang tunanetra.
“Yusra…” Suara panggilan terdengar dari arah serang yang mengerah pada mereke. Orang yang memanggil wanita buta itu dengan panggilan Yusra berlari menuju keberadaan mereka.
“Mana tongkatmu?” Tanyanya dengan napas yang terengah-engah.
“Maaf, aku kehilangannya saat dikelas tadi.” Jawab Yursa menggunakan nada rendah.
“oh ya, ini orang yang baru saja menyelamatkanku. Em, namanya?” lanjut Yusra. Sania yang dari tadi memperhatikan teman Yusra kaget dengan pertanyaan Yusra.
“Sania.” Singkat Sania dalam memperkenalkan dirinya.
“Saya Ena, temannya Yusra. Terimakasih ya.” Itu adalah percakapan akhir Sania dengan Yusra dan temannya. Yusra dan Ena beranjak meningalkan Sania yang hanya berdiri melihat kepergian mereka.
Sania melihat gawai miliknya saat setelah bordering. Sebuah pesan masuk yang mengharapkan kehadiran Sania untuk mengumpulkan tugas saat itu juga. Sania langsung berlari tanpa mengiraukan apapun dengan earphone yang tergantung ditelinganya.
Sania berhenti tepat di depan kelas yang akan ia masuki. Saat itu juga, tiba-tiba Lika mengangetkan Sania dengan menepuk pundaknya lagi.
“San, kamu larinya cepat sekali, dari tadi ku panggil nggak dengar ya?” Sania tidak mengacuhkan pertanyaan Lika dengan tangannya yang masih mengganggam gawai. Lika sudah tidak tahan dengan Sania, ia langsung merebut gawai milik Sania. Namun Sania malah menjatuhkan sesuatu yang dipakainya sama saat seperti ia menabrak Yusra. Sania panik melihat kearah lantai mencari-cari sesuatu yang penting baginya itu kembali.
“Inikan…” seorang pria yang merupakan teman seangkatan Sania tepat berada di belakangnya menemukan barang yang dicari-cari oleh Sania.
“Hearing Aid, alat bantu untuk mendengar” Sahut Lika setelah melihat barang yang dicari oleh Sania.
Wajah Sania tampak kesal. Perasaanya campur aduk. Ia langsung berlari setelah mengambil Hearing Aid miliknya dengan kasar dari tangan pria yang menemukannya.
“Jadi selama ini Sania itu… ” Pikiran Lika menuju satu arah. Perasaannya yang mengira ada sesuatu yang disembunyikan oleh Sania terbukti. Lika hanya memandang kepergian Sania.
“Apa yang kamu tunggu? Cepat kejar dia!” Paksa Pria bertubuh tinggi yang menemukan Hearing Aid Sania pada Lika. Tanpa basa-basi Lika langsung menyerahkan tugas miliknya kepada pria itu dan berlari mengejar Sania.
Komentar
Posting Komentar