PERISTIWA ANGKA LIMA BELAS





Menjadi penggugah hati ketika mendengar kata kenangan. Kenangan yang selama ini ku ketahui hanyalah melibatkan unsur subyek atau pelaku, ruang, dan waktu yang serupa dengan unsur sejarah, kini benar-benar muncul dalam otak ku ketika aku memijakkan kaki di sebuah tempat yang tak asing lagi bagiku. Memang tak kerap kali aku melewati tempat itu, mungkin karena selama ini aku pergi menjauh dan hanya beberapa saat melihat tempat itu. Namun kali ini berbeda. Aku benar-benar berdiri di salah satu sudut untuk memandangi tempat itu. Samar-samar bayangan dahulu muncul tepat didepan mataku. Aku merasakan kembali saat-saat mereka yang menarikku ke tengah lapang dan melempariku dengan genangan air yang dibaluti plastik tembus pandang. Ditambah lagi lemparan bubuk putih yang bertaburan disana sini hingga melumuri seluruh tubuhku. Semua wajah hingga pakaianku menjadi putih tak karuan, walaupun saat itu aku mengenakan seragam batik biru yang dipadukan dengan celana putih dan jilbab putih.


Perasaan itu menjadi campur aduk. Bisa kukatakan senang, sedih, terharu, dan memalukan. Aku senang karena mereka mengingat satu hari yang mungkin akan selalu berulang dan menyatakan bahwa aku masih bisa merasakan dunia di hari selanjutnya, jika aku masih terus hidup. Sedihnya mungkin karena aku akan mengingat bahwa waktuku didunia ini akan berkurang. Sangat terharu ketika mereka memanjatkan doa-doa yang terbaik untukku, walaupun paginya mereka bersandiwara berjamaah layaknya bermain drama tapi tak karuan karena tokoh-tokohnya yang amatiran. Bukannya aku meledek mereka tidak bisa berperan, tapi memang cerita sandiwara mereka yang berpura-pura masa bodoh terhadapku sangatlah transparan. Dikira aku tidak akan ingat hari dimana ibuku berusaha bertahan hidup agar aku bisa mencicipi kehidupan dunia. Bagiku peran mereka sangat klise. Dan yang paling memalukan dari kejadian pada hari  itu adalah ketika semua siswa entah dari kelas berapa, banyak yang melihat kejadian itu. Aku sangat tahu, karena aku melihat mereka satu-persatu berada di pinggiran kelas menyaksikan tontonan yang sedikit memalukan itu. Ditengah lapangan aku hanya bisa berlari menghindar seperti buronan yang di sergap oleh kawanan polisi. Kenyataannya aku bukanlah buronan, tapi siswa kelas sembilan yang menjadi korban penyerbuan air dan tepung dari sekawanan kelas ku bahkan lainnya yang mengetahui hari itu adalah usiaku yang menginjak 15 tahun. Hari itu bisa dikatakan sebagai peristiwa dimana aku dapat merasakan kehadiran teman-temanku yang mungkin akan selalu mengingatku hingga kini, esok, dan selanjutnya sampai kami bertemu kembali sambil membawa impian yang telah kami gapai serta kenangan-kenangan berharga di setiap harinya untuk  diceritakan ke anak cucu kami. Anggap saja hari itu adalah peristiwa angka lima belasku. Hari sebelum aku dan kawan-kawanku berpisah untuk menjemput mimpi-mimpi besar yang telah kami rajut.

#DAFTARODOP6
@komunitas.odop

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SENJA MERONA

INDAH DIMATA-NYA

MENELAN DUSTA