INDAH DIMATA-NYA



Bagian 3: Keraguan

Menjadi seorang anak yang tidak mengetahui definisi membanggakan orang tua, aku hanya bisa melakukan sesuatu pada umumnya dalam membuat orang tua bangga.  Anggap saja menjadi juara kelas. Memang hal itu dapat membuat orangtua bangga, tapi bukankah hal itu sangat klise?. Dari berbagai cerita yang ku baca, ku dengar, dan ku lihat, sangat banyak alur cerita untuk membanggakan orangtua dengan menitikberatkan prestasi akademik anaknya. Hal itulah yang mulai memunculkan anggapan bahwa diriku harus berprestasi dalam bidang akademik. Belajar dengan giat, walaupun terkadang rasa malas menjadi momok permasalah dalam diri ini. 

Aku selalu berusaha untuk membanggakan orangtua, dengan apapun caranya selama itu masih baik. Beprestasi di bidang akademik? Okelah aku akan beruhasa, bahkan jika harus belajar sistem kebut semalam karena hari sebelumnya aku malas belajar dengan alasan tidak menyukai mata pelajaran itu. Masa hidupku yang seperti itu berjalan hingga aku berada di bangku SMA. Namun kali ini aku sudah tinggal jauh dari orangtua, sehingga aku menanamkan pemikiran jika aku harus menjadi yang lebih baik dari sebelumnya untuk lebih membuat orang tua ku bangga. Seperti saat SMP, aku masih menutupi diri untuk mengikuti kegiatan diluar. Menyibukkan keseharian dengan belajar. Namun aku ingin berubah dari sebelumnya. Aku sedikit mulai mengikuti kegiatan diluar akademik tepatnya ekstrakurikuler. Menambah relasi dengan lainnya. Namun tetap menomorsatukan kegiatan akademik.

Anggapan untuk membuat orang tua bangga dengan cara itu selalu muncul di otakku sampai melupakan cita-citaku sebenarnya. Waktu akhir dari masa SMA pun datang. Aku bingung untuk menentukan tujuanku selanjutnya. Tentu saja aku berencana untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun bukan itu yang ku pikirkan, hanya saja aku  masih bingung ingin memfokuskan diri pada program studi apa. Mengapa demikian? Orang tuaku menyarankan untuk memilih jurusan yang memiliki prospek kerja yang tinggi. Saat aku mengatakan Arsitektur, wajah mereka seperti menunjukkan ketidaksetujuan walaupun semuanya berakhir dengan keputusanku sendiri. Namun, saran mereka selalu berputar-putar di orakku. Keraguanpun muncul pada diri ini dalam memilih untuk masa depan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SENJA MERONA

INDAH DIMATA-NYA

MENELAN DUSTA