SENJA MERONA
In frame : Sepunggur Kalimantan Utara, taken by Arina N.R
Bagian 1: Lamunan Senja
Senja sore itu. Guratan berwarna oranye terlukis pada kanvas yang terbentang tinggi. Cahaya sirna seakan malam akan menyapa. Sang surya sudah siap tuk kembali keperaduannya. Aku senang sekali menatap pemandangan elok itu dibalik jendela kaca perpustakaan kampus yang tingginya hampir menyerupai tinggi badanku. Tempat favorit untuk menikmati lukisan indah sang pencipta. Lebih nikmat jika ada secangkir kopi hitam yang dapat menemaniku dalam menikmati momen itu.
Senja sore itu. Guratan berwarna oranye terlukis pada kanvas yang terbentang tinggi. Cahaya sirna seakan malam akan menyapa. Sang surya sudah siap tuk kembali keperaduannya. Aku senang sekali menatap pemandangan elok itu dibalik jendela kaca perpustakaan kampus yang tingginya hampir menyerupai tinggi badanku. Tempat favorit untuk menikmati lukisan indah sang pencipta. Lebih nikmat jika ada secangkir kopi hitam yang dapat menemaniku dalam menikmati momen itu.
Aku masih berada ditempat yang sama. Hanya saja lelah telah menghampiri dan memaksaku untuk duduk dikursi yang sebelumnya ku tempati. Aku tak dapat berpaling dari pemandangan itu. Setiap kali melihat buku catatan dan berpikir untuk mengerjakan tugas yang sudah menanti dari tiga hari lalu, rasanya bola mata memaksa tuk melirik ke arah jendela lagi.
Aku mendongak menatap langit-langit sembari memejam mata dan menghembuskan napas berat. “Aku sudah tak kuat lagi.” Keluhan mulai keluar dari mulutku. Pikiran sudah berlari kemana-mana. Aku menemukan pemandangan indah di waktu yang tidak tepat. Sesekali menatapnya, bayangan itu datang menyapa. Bayangan seseorang yang tidak ingin ku ingat, namun selalu datang jika ku melihat pemandangan senja itu, apa aku harus tidak menyukai pemandangan itu agar dapat melupakan dia? Aku sudah tak tahan dengannya.
***
“Hai Luna.” Lelaki bertubuh ramping menyapa temanku dari arah belakang. Hanya Luna yang disapanya, padahal ada aku dan lima temanku yang lain. Oh tuhan, kenapa dia menyapa Luna tapi tidak menyapa ku? Aku tak apa dengan hal itu, tapi ini bukan soal menyapa saja, dia tidak menoleh ataupun melirik padaku yang padahal tepat berada disampingnya. Aku seperti tidak dianggap olehnya, apa aku ini makhluk ghaib baginya?
“Hai Sean.” Aku menyapa lelaki dingin itu dengan senyuman tipis dari bibirku. Dia hanya menoleh dan melemparkan senyumnya sebagai balasan. “Kalian sedang bicara apa? Nimbrung dong.” Dia yang baru datang, tiba-tiba memotong perbincangan seru kami saat itu. “Tidak ada, hanya membicarakan acara pelatihan jurnalistik kemarin.” Jawab Ayu dengan santai. “Oh … seru nih kayaknya.” Timpal Sean. “Memang.” Sahut Beni yang duduk disampingku.
Aku pertama kali bertemu dengan Sean saat acara pelatihan jurnalistik yang diadakan oleh kampus. Kami berasal dari dua fakultas yang berbeda. Aku dari fakultas MIPA dan Sean dari fakultas pertanian. Selama pelatihan, Sean merupakan salah satu peserta yang aktif. Bahkan dia sempat menjadi kandidat peserta terkreatif, sama seperti Luna. Sedangkan aku, malah menjadi kandidat peserta terkalem. Menurutku bukan karena kalem, tapi kebiasaanku yang lebih tidak bersuara. Mungkin itu alasan dia lebih sering menyapa Luna ketimbang aku. Jujur saja itu membuatku sedikit iri. Tidak, lebih tepatnya cemburu.
Aku tidak mengerti bagaimana rasa itu muncul. Tiba-tiba saja jantung berdetak lebih kencang dari biasanya ketika aku berada dekat dengannya. Apa itu pertanda? Pertada bahwa aku mencintainya. Aku termasuk salah satu wanita yang sangat susah untuk mencintai lawan jenis. Mungkin karena kejadian lampau yang sangat menyayat hati. Tapi tidak untuk hari itu. Hari dimana Sean menebarkan senyum indahnya saat menimpali pernyataanku hingga membuatku terpesona. Hanya dengan senyuman, seorang Sean telah membuka pintu hatiku yang terkunci tiga tahun lamanya. Membersihkan sawang-sawang yang melekat dilangit-langit hati. Mengukir nama indahnya di otakku hingga menyebutnya dalam doa pada sepertiga malam. Tapi apalah daya jika dia tidak pernah melihat kearahku.
“Sean, aku berharap kamu merasakan apa yang kurasakan. Kumohon jangan kamu mengusik hidupku dengan bayang-bayang wajahmu. Kuharap Allah menjawab semua doaku dan memberikan yang terbaik. Aku tidak ingin dosa karena selalu memikirkan tentangmu.” Teriakku dalam hati yang berharap Sean mendengarnya. Hanya doa yang dapat kusampaikan pada-Nya. Semua harapan ku pasrahkan sepenuhnya pada-Nya.
***
Masih berada pada perpustakaan yang mulai sunyi dengan menatap senja yang kian menghilang. Berusaha menghapus bayang-banyang senyumnya. Aku menyangga dagu dengan kedua telapak tangan sembari mengernyitkan dahi berharap senja tidak pergi meninggalkanku. Perlahan embusan napas keluar dari mulut.
“Senja?” Seruan namaku terdengar begitu saja. Refleks ku menoleh kearah datangnya suara. Aku melongo melihat orang yang menyapaku barusan. Lelaki bertubuh tinggi ramping dengan tangan berkulit kulit sawo matang memeluk tiga tumpukan buku didepan dadanya. Tidak ku sangka jika seseorang yang biasanya tidak menganggapku ada, memanggil namaku. Dia menatap dengan senyum mempesonanya.
#Tantangan3
#fiksi

Komentar
Posting Komentar