MENELAN DUSTA
Bagian 1.
Di bawah pohon yang merindang di atas bangku berkaki empat, tampak seorang wanita duduk dengan kaki menyilang. Wanita dengan paras cantik mengenakan kain panjang berwarna kuning keemasan yang menahan rambutnya menjulur kebawah hingga menutupi dadanya. Ia menatap fokus pada buku yang berada di hadapanya. Terdengar suara gesekan tiap lembaran kertas yang dibukanya. Tiupan angin menerbangkan jilbab yang dikenakan hingga menutupi sebagian wajahnya.
“Sania, aku dari tadi manggil kamu lo.” Tepukan pada pundak wanita yang disebut Sania itu mengagetkannya. Seseorang bernama Lika yang diakui sebagai teman dekat Sania langsung menduduki bangku tepat di sebelah Sania.
“Ya? Maaf.” Sania memperlihatkan wajah bersalahnya.
“kamu sih pakai earphone terus, memangnya apa sih yang kamu denger?” Tanya Lika sembari melihat gawai yang dipangku Sania. LIka mencoba mengambil paksa gawai itu untuk membunuh rasa penasarannya, namun gagal.
“Ng.. Nggak ada kok, Cuma lagu-lagu jadul.” Sania langsung mengambil gawainya. Wajah Lika tampak kecewa. Ia merasa Sania menghindarinya. Sesegera ia mencoba merubah topik dengan mengajak Sania ke kantin untuk menghilangkan prasangkanya. Namun Sania menolak dengan alasan ingin mencari buku di perpustakaan. Prasangka Lika semakin meningkat, seperti ada yang disembunyikan oleh Sania terhadapnya. Lika memberi senyuman kepada Sania untuk menutupi rasa kecewanya. Ia berjalan meninggalkan Sania sendiri.
Sania melihat kepergian Lika. Ia sadar jika telah membuat Lika kecewa. Sania langsung beranjak dari tempat duduknya.
Perlahan dengan langkah kakinya yang berat, Sania berjalan sambil menundukkan kepala dan memeluk buku yang ia baca waktu sebelumnya smbari menggunakan earphone di telinganya. Tanpa melihat keadaan sekitar, ia tak sengaja menabrak seorang wanita yang berjalan berlawan arah dengannya.
“Maaf.” Satu kata keluar dari mulut wanita itu. Semua buku yang dipeganginya jatuh berceceran ditanah. Sania tidak mempedulikannya dan hanya mengambil gawainya yang jatuh, namun saat setelah merasa ada sesuatu yang lain jatuh dari tubuhnya, ia langsung mencari sesuatu itu di antara buku-buku wanita yang ia tabrak.
Sania mencari-cari sesuatu yang jatuh dari tubuhnya. Wajahnya terlihat panik. Namun tangannya berhenti bergerak ketika melihat wanita didepannya meraba-raba trotoar yang mereka pijak. Sejenak ia melirik wajah poloh wanita itu. Wanita dengan wajah yang manis, matanya menatap satu arah dengan tatapan hampa. Sania perlahan mengangkat tangan dan melambaikannya tepat didepan wajah wanita yang sibuk mencari buku-buku disekitar mereka. Pertanyaan muncul seketika diotaknya. Dia buta?.
Komentar
Posting Komentar