SEBUAH AMPLOP POLOS


“Seharusnya kamu itu nggak lembek kayak gitu!” seruan ibu dengan nada rendahnya terdengar hingga menembus dinding kamarku dengan pintu sedikit menganga yang kala itu bersebelah dengan ruang keluarga.

“Pokoknya aku nggak mau tahu, itu urusanmu, aku sudah capek, sudah sakit hati.” Keluh ibu yang masih terdengar dengan nada rendahnya namun kali ini suaranya sedikit bergetar seperti menahan luapan amarah.

Aku tidak mendengar jawaban apapun dari lawan bicaranya dan mungkin dia adalah ayah dengan ekspresinya yang selalu datar saat beradu mulut dengan ibu. Ayah sudah terbiasa untuk mengalah agar perdebatan mereka lekas usai.

“Sudah cepat urusi adikmu itu.” Aku melihat bu pergi meninggalkan ayah melalui celah pintu, dia berjalan dengan derap langkah yang tergesa-gesa seperti dikejar makhluk menakutkan. 

Sejujurnya aku paling tidak nyaman ketika mendengarkan orang tuaku ketika beradu mulut. Rasanya hidup di dunia yang berpenghuni hanya tiga orang namun banyak mulut bertebaran dimana-mana. Terkadang ingin rasanya ruh yang ada dalam jasad ini dapat berpisah sejenak ketika mereka berdebat yang aku tidak paham apa maksudnya. Tidak bermaksud untuk menghadap sang pencipta sejenak, hanya saja ingin merasakan yang namanya kedamaian dan kenyaman selayaknya. 

Mendengarkan perdebatan mereka yang lirih tadi, aku yang hanya bisa diam mendengarkannya dan melampiaskan kerusuhan hati dengan menyelipkan earphone di kedua telingaku. Kusalurkan semua lagu dengan tingkat kenyaringan yang tidak terlalu tinggi melalui Earphone yang tergantung dengan ujungnya yang menancap pada gawaiku. Kala itu aku yang sedang asik berselancar pada dunia mayaku, membaca dagelan sambil tertawa sendiri, tiba-tiba seseorang mendorong pintu kamarku dengan keras.

“Tini, bantu ibu di dapur dan bawakan wedang teh ke depan!” Aku membelalakkan mata selebar-lebarnya. Bagaimana tidak? Walaupun aku sedang mendengarkan lagu dengan mengenakan earphone, tetap saja dobrakan ibu saat membuka pintu membuatku kaget, apalagi saat ibu sedang emosi mungkin pintu kamarku sudah runtuh. 

Aku yang tak ingin membuat suasana hati ibu semakin suram, segera ku melepas earphone dan langsung mengenakan pakaian panjang dipadukan dengan jilbab penutup kepala berwarna biru yang sebelumnya tergantung dibalik pintu. 

Aku berjalan dengan hati-hati sambil membawa nampan yang di atasnya tersedia dua sajian teh hangat masih tertutup oleh penutup gelas menuju ruang tamu. Aku melihat seorang pria yang usianya dibawah ayahku kira-kira setengah baya dengan perawakannya yang ramping serta rambut yang mulai memutih. Ku merendah diri seperti berlutut di dekat meja tamu sambil menyuguhkan wedang teh hangat buatan ibu. Aku tak berani menatap wajah nya.

“wah… lama nggak bertemu ya, Tini sudah remaja, terakhir ketemu masih SMP kelas 8 bukan?” Dia berbicara dengan menampakkan wajahnya yang polos dihiasi senyuman kecilnya. Sejenak ku melihat wajahnya dan langsung menundukkan kepalaku lagi.

Njih pak lik.” Ku balas pertanyaanya dan melemparkan senyumanku padanya untuk sebagai akhir perkataanku. Aku yang tak memiliki kepentingan untuk berbincang panjang dengannya langsung meninggalkan ayah dan pak lik di ruang tamu.

Sepulang mengantar hiangan dari ruang tamu, aku melanjutkan kegiatanku sebelumnya, bermain sosial media. Tak lama ku memandangi layar gawaiku, sebuah suara terdengar memanggil namaku dan ibuku dari arah ruang tamu. Segera ku menghampiri ayah bersama ibu.

“saya pamit dulu ya, mas, mbak Sri, dan Tini. Maaf mengganggu dan merepotkan, Assalamualaikum.” Aku, ayah, dan ibu menngantarkan pak lik hingga teras rumah. Sebelum bersalaman dengan ayah, dia sempat memasukkan sebuah amplop berwarna putih polos yang entah isinya apa kedalam saku jaketnya. 

“Waalaikumsalam..” kami membalas salam darinya dengan kompak. Ayah memandangnya dengan senyuman. Aku sedikit melirik kearah ibu,  dia menampakkan wajah yang tak sedap. Berulat mata melihat, seperti timbul rasa benci ketika melihat wajah pak lik, tidak ada senyuman sedikitpun yang terselip diwajah ibu.

#komunitasonedayonepost
#ODOPbatch6
#Day-7
#Tantanganke-1

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SENJA MERONA

INDAH DIMATA-NYA

MENELAN DUSTA