SENJA MERONA


Bagian 3: Tetaplah bersama Senja.

“Kamu sedang memikirkan sesuatu?” Aku mengangkat kepala yang sedari tadi menunduk berusaha menghindar dari Sean. Oh tuhan … apa Sean bisa membaca pikiranku? Ya, memang benar aku sedang memikirkan sesuatu Sean. Dan pikiran yang menggangguku selama ini adalah kamu. 

Aku masih terdiam dengan mata kami yang saling memandang. “Sudah sepuluh menit kamu membaca halaman itu.” Sean menunjuk bukuku dengan dagunya. Syukurlah dia tidak menyadari jika aku berusaha mencuri pandangnya. 

“Em … sedikit susah dipahami.” Aku menghindar dari tatapnnya. Bingung menjawab pertanyaannya dengan apa. Memang susah dipahami. Bukan materi yang tertera dibuku itu, tapi dirimu Sean. Aku tak bisa memahami mu. Dirimu yang biasanya dingin padaku berubah menjadi hangat setelah senja menghilang. Kamu selalu berubah diwaktu yang tak tentu. Sikapmu itulah yang selalu membuatku bingung. Menerka-nerka bagaimana perasaanmu padaku. Apa kamu sadar Sean, tanpa memikirkan dirimu, jika aku sedang tidak sibuk bayangmu selalu menghantui pikiranku. 

Tiba-tiba seorang petugas menghampiri kami. “Maaf mbak, mas, waktu kunjungan perpustakaan telah habis. Sepuluh menit lagi kami akan menutupnya.” Dengan perawakan yang tinggi, kepalanya dibalut dengan hijab berwarna hijau dan sebagian wajah yang tertutup masker dia menyarankan kami untuk melanjutkan kegiatan belajar di perpustakaan esok hari. Aku hanya tersenyum menganggukkan kepala.

Sean berdiri mendorong kursi duduknya kebelakang. Menutup buku yang dia baca dan menumpuknya dengan buku lainnya yang berada diatas meja kami. “Kamu tidak siap-siap?” Dengan sigap aku berdiri menata buku dan memasukkan pena kedalam kotak penyimpanannya. “Sudah.” Sean berjalan kesamping merapikan kursinya. Kedua tangannya meraih tumpukan buku yang sepertinya akan dia pinjam. “Yuk.” Aku terdiam mendengar satu kata darinya yang mengisyratkan padaku untuk ikut bersamanya. Sejenak otakku masih mencerna satu kata itu. “kenapa diam saja?” lanjut Sean yang keheranan melihat tingkahku.

Sebelum kami menuju arah tangga, sejenak kami singgah di tempat peminjaman buku. Aku diam menunggunya melihat dia sibuk mengunakan mesin peminjaman. “Kamu tidak pinjam?” Aku menggelengkan kepala. Dia mulai beranjak dari tempatnya berdiri dan aku masih terdiam. Berharap dia akan tetap disampingku tidak mengakhiri pertemuan tak terduga itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SENJA MERONA

INDAH DIMATA-NYA

MENELAN DUSTA