SENYUMAN DIBALIK AIR MATA


Neon tidak akan pernah melupakan senyuman itu. Dimana senyuman yang sangat melekat pada hatinya. Ia berjalan menyusuri sungai yang airnya mengalir kejiwanya. Dengan langkah yang berat, ia mulai mengembuskan napas panjangnya perlahan sembari memejamkan matanya. Menghilangkan bayang-bayang wajah wanita manis yang pernah ia kenal. Pelan-pelan ia membuka mata. Terlihat sesosok gadis berbadan mungil berdiri dihadapannya. Cairan bening mulai memenuhi mata Neon dan jatuh membasahi pipinya.

“Neon jika hari ini berakhir, apa yang sangat ingin kau lakukan saat akhir itu terjadi?” Tanya gadis mungil itu.

“kalau aku, aku akan berlari menghabiskan waktuku sambil melihat semua sisi eloknya dunia.” Lanjut gadis berparas manis yang perlahan mendekati Neon.

“Seoni … ” Panggil Neon dengan nada rendah yang tak terdengar oleh gadis itu.

Mata Seoni mulai berkaca-kaca, pandangannya kosong menatap kearah Neon. Ia paham bahwa dirinya adalah manusia yang lahir dengan anggota tubuh tak sempurna. Ia menahan matanya untuk memejam. Seoni tak kuasa lagi menahan butiran bening dimata sipitnya. Air matanya meleleh, sesegera ia menundukkan kepala dan memejamkan mata dengan bibir yang berusaha untuk tersenyum.

Tiba-tiba Neon menggapai tangan Seoni dan menuliskan sebuah kalimat di telapak tangan Seoni. “Seoni ... aku ingin kau selalu bersamaku.”

Neon adalah orang yang tak beda dari Seoni. Manusia yang tak bisa mengerti ucapan dan hanya bisa mengikuti gerak-gerik bibir seseorang. Meski begitu, ia tetap berusaha menenangkan hati seoni. Hatinya memberontak untuk menahan rasa sukanya pada wanita tunanetra itu. Ia selalu berusaha mengungkapkan perasaannya pada Seoni.

“kau! mengapa kau tak pergi saja mencapai ujung mimpimu?” Tanya Seoni dengan suara yang bergetar. Namun usaha seoni untuk mengalihkan perhatian Neon sia-sia saja, karena Neon tak hiraukan ucapannya.

“Tapi saat ini aku hanya ingin melihatmu tersenyum.” Lanjut Seoni dengan nadanya yang mulai meninggi, berharap Neon mengerti ucapannya. Namun, sekeras apapun Seoni berkata, Neon hanya diam seribu bahasa. Seoni seolah-olah berbicara pada benda mati. Kesunyian selalu mengelilingi mereka.

“Aku.” Telunjuk Neon bergerak ragu di telapak tangan Seoni.

“Maaf.” Lanjut Neon.

“Minta maaf apa?” Tanya Seoni.

“Aku ingin mengatakannya tapi tak bisa” Jawab Neon dengan tangan yang masih memegang tangan kanan Seoni. “Tak apa!” paksa Seoni.

“Aku tak bisa melihatkan senyumku padamu...” Ungkap Neon. Tempat yang mereka pijaki sunyi seketika. Seoni menampakkan wajah yang murung. Akhirnya Seoni mengeluarkan satu kalimat pertanyaan.

“Adakah yang ingin kau tuliskan lagi?” Tanya Seoni. Telunjuk kanan Neon mulai bergerak perlahan.

“Cinta … aku cinta padamu.”

“Maaf aku tak bisa tersenyum padamu.” Tulis Neon. Seoni memberikan senyuman manisnya sebagai balasan kata-kata Neon sebelumnya.

“Aku yang akan menggantikan senyumanmu.” Neon memandang wajah Seoni dengan mata yang tak kuat menahan air mata. Perlahan senyuman Neon mengembang.

Kini Neon memejamkan matanya kembali dan tersenyum lebar dihadapan alam. Mengabulkan keinginan Seoni satu tahun yang lalu. Serta meninggalkan separuh hatinya disungai itu untuk selalu mengingat senyuman Seoni.


Anggap ini Seoni wkwkwk ....

Komentar

  1. Balasan
    1. Alhamdulillah, makasih kak.. Doakan saya istiqomah menulis..

      Hapus
  2. Sedih bacanya 😥, jadi terbawa membayangkan dua tokoh itu

    BalasHapus
  3. Kak itu gambar sendiri? keren.. Keren cerita kalau pakai ilustrasi gini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, tapi masih amatiran.. Alhamdulillah kalo ada yang support gini...

      Hapus
  4. Alhamdulillah, makasih atas dukungan kakak-kakak dan bersedia meninggalkan jejak di tulisan saya, doakan saya istiqomah menulis.. Hehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SENJA MERONA

INDAH DIMATA-NYA

MENELAN DUSTA