SOSOK IBU YANG BERBEDA


Bagian satu. 

Sudah 40 detik matanya menatap satu titik tanpa berkedip. Cairan bening mulai menggenang menyelimuti matanya. Entah apa yang sedang dipikirnya, gadis dengan usia 10 tahun duduk sendiri di bangku pojok kanan bagian belakang dalam ruang yang sepi itu. Derap langkah kaki mulai terdengar hingga kedalam kelas. Kesunyian yang dirasa mulai pecah. 

“Hai Rismi, kamu sedang melamun?” Gadis dengan rambut panjang yang terurai kebelakang itu menoleh pada sumber suara. Seorang pria berusia 1 tahun lebih tua dari gadis bernama Rismi berjalan mendekat. Dengan santai pria itu duduk disamping Rismi. “Hari ini ibumu datang kan?” lanjutnya. Rismi hanya diam melihat wajah manis pria yang duduk disampingnya.

“Entahlah, sepertinya dia tidak ada waktu untuk itu.” Rismi mulai berbicara. “Bagaimana dengan ibumu Yuan?” Tanya Rismi sembari membenarkan posisi duduknya menghadap papan tulis. “Tentu saja, hari ini kan perayaan hari ibu.” si Pria yang dipanggil Yuan itu menjawab dengan mantap. Rismi tersenyum melihat tingkah Yuan yang selalu menunjukkan sikap optimis. Tak lama kemudian kelas mulai ramai dengan teman-teman Rismi yang antusias menyambut hari ibu.

“Anak-anakku tercinta, bagaimana kabar kalian? Ibu harap kalian akan menampilkan sesuai apa yang kita rencanakan sebelumnya … ” Ibu guru berseru dengan berdiri didepan kelas meredakan keramaian siswanya. Berbeda dengan teman-temannya, Rismi hanya diam dengan pandangan fokus pada ibu guru. “Ya. Ibu mohon anak-anak bertingkah baik didepan ibu kalian ya … ” Serunya kembali. “Baik bu … ” penghuni kelas seketika diam mematuhi perintah ibu guru. Semua ibu dari siswa kelas 4 sekolah dasar itu mulai memasuki kelas. Satu persatu teman-teman Rismi menunjukkan kebolehannya di depan sang ibu tercinta.

Nama Al-Khawarismi pun terpanggil. Ya, itulah nama panjang Rismi yang diberikan ibunya dahulu saat ia lahir. Rismi berdiri mendorong bangku yang ia duduki kebalakang untuk memudahkannya agar bisa keluar. Rismi melangkah perlahan, setiap dua langkah kakinya melaju, ia menoleh kebelakang berharap orang yang ia nantikan hadir diruang itu.

Rismi berhenti melangkah tepat didepan kelas. Ia membalikkan tubuh mungilnya menghadapkan dirinya kedepan teman-temannya. Belum ada sepatah kata yang keluar dari mulut Rismi. Sunyipun menghinggap lama di ruang kelas sederhana yang penuh gambaran amatir namun penuh makna yang karyanya berasal dari penghuni ruang tersebut. semua mata menatap fokus kearah Rismi.

“Rismi?” Panggil ibu guru yang sudah menanti persembahan Rismi untuk teman-teman dan ibunya Rismi. Rismi menoleh dan melihat senyuman ibu guru. “Sepertinya ibu saya tidak akan datang bu.” Sahut Rismi. Alis ibu guru terangkat, bingung dengan pernyataan singkat Rismi. “Ibu disini Rismi.” Tiba-tiba suara datang menyebutkan nama Rismi dari arah belakang pintu. Semua menoleh kearah asal suara dan keheranan dengan perkataan orang dibalik pintu itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SENJA MERONA

INDAH DIMATA-NYA

MENELAN DUSTA