SOSOK IBU YANG BERBEDA


Bagian dua

“Ibu disini Rismi.” Tiba-tiba suara datang menyebutkan nama Rismi dari arah belakang pintu. Semua menoleh kearah asal suara dan keheranan dengan perkataan orang dibalik pintu itu. Seorang pria dengan usianya yang sudah setengah baya masuk melewati pintu depan kelas. Pria dengan bentuk tubuhnya yang tegap melempar senyuman pada Rismi dan menjauh dari Rismi berjalan menuju arah tempat duduk yang kosong. Rismi melihat baju bagian belakang pria itu basah seperti menggambarkan pulau dalam peta.

“Saya tidak pantas menunjukkannya padanya bu.” Ucap Rismi dengan mata menatap pria itu. “Tidak apa Rismi, walaupun ibumu tiada setidaknya ayahmu yang datang menggantikannya.” Kata ibu guru sambil memegang bahu kiri Rismi.

“Tapi saya tidak ingin melakukannya bu.” Rismi menolak dengan tegas. Kelaspun menjadi lebih sunyi. Rismi mendongakkan kepalanya sembari menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Rismi menegakkan badannya dan mengarahkan pandangannya kehadapan teman-temannya lagi.

“Ibu saya telah tiada. Dia meninggalkan saya saat berusia enam tahun. Saya hanya tinggal dengan manusia yang duduk santai disana.” Tangan kanan Rismi terangkat dan semua jari tangannya menunjuk kearah pria yang dianggap ayahnya itu. “Saya tidak ingin menunjukkan persembahan saya untuk dia. karena dia memang tidak pantas mendapatkannya.” Tangan kanan Rismi masih terangkat menunjuk ayahnya, namun pandangannya mengarah pada teman-temannya. Ayahnya menunduk seperti kecewa pada Rismi.

“Apa maksud kamu Rismi, kamu harus bersikap sopan pada ayahmu.” Dahi ibu guru mulai mengkerut, tidak menyangka ucapan itu keluar dari mulut mungil Rismi. Nadanya pun mulai meninggi, dia tidak ingin anak didiknya tidak menghargai orang tuanya sendiri. Rismi menurunkan tangannya. 

“Dialah orang yang membunuh ibu kandung saya sendiri bu.” Rismipun ikut meninggikan suaranya. Semua ucapan tak enakpun mulai terdengar dari ibu-ibu teman Rismi. Ayahnya tetap menunduk. Kini dia bukan merasa kecewa pada Rismi, namun rasa penyesalan menggelayuti tubuh ayah Rismi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SENJA MERONA

INDAH DIMATA-NYA

MENELAN DUSTA