SOSOK IBU YANG BERBEDA
Bagian tiga.
“Dialah orang yang membunuh ibu kandung saya sendiri bu.”perkataan Rismi memecah kesunyian. Ucapan yang tak pantas didengar oleh anak usia sepuluh tahun pun mulai terdengar dari para ibu teman-teman Rismi. Ayahnya tetap menunduk. Kini dia bukan merasa kecewa pada Rismi, namun semua penyesalan menggelayuti tubuh ayah Rismi.
“Dia yang tega membunuh ibu saya perlahan.”
***
Aku berlari kecil kegirangan karena akan bertemu ayah. Sudah seminggu aku tinggal dirumah nenek karena ibu sibuk bekerja mencari upah untuk membiayai pengobatan ayah yang saat ini sedang berbaring lemas diatas kasur rumah sakit. Aku benci rumah sakit. ketika aku berjalan dilingkungan rumah sakit, bau obat-obatan selalu berterbangang dan menusuk hidungku. Mungkin ayah juga membenci tempat itu.
“Rismi, jangan lari-lari nak.” Ibu memanggilku dari belakang, meraih tubuhku dan menggandeng tangan kecilku. ibu awalnya memasang wajah kesal, namun akhirnya dia tersenyum ketika aku tersenyum lebar hingga menunjukkan gigiku yang hanya beberapa biji itu.
Aku dan ibu sudah berada didepan pintu kamar inap ayah. Terdengar suara wanita dari arah dalam. Segera mungkin aku meraih gagang pintu yang tingginya sama dengan tinggi badanku dan mendorongnya. Dugaanku benar. Seorang wanita yang usianya tak jauh dengan usia ayah berdiri dihadapan ayah. Aku tidak tau siapa dia, yang pasti itu adalah kenalan ayah.
“Sayang ini aku bawakan buah untukmu” ibu mengangkat tangannya yang sedang membawa kantong plastik berisi beberapa buah apel. “Aku tidak ingin.” Ayah memalingkan wajah dari pandangan ibu. aku tak mengerti mengapa ayah menjadi acuh tak acuh dengan ibu. “ini baik untuk perncernaanmu sayang.” Kata ibu sambil mengeluarkan buah apel dan mengambil pisau diatas piring yang menampung kulit buah berserakan. Perlahan ibu mengupas kulit apel dan memotongnya dengan hati-hati. Ibu mengambil potongan apel yang telah bersih itu dengan tangan kosongnya. Namun ayah menolak dengan menjauhkan mulut dari tangan ibu. Ibu mengembuskan napas kecil, meletakkan potongan apel pada piring yang sudah dibersihkannya terlebih dahulu. Ibu menoleh kearah wanita yang berdiri di hadapan ayah dan mengangguk kepadanya. Saat setelah itu ibu langsung menarikku keluar. Aku tidak paham dengan perlakuan ibu, dia langsung menutup pintu kamar ayah. Sebelum pintu itu menutup sepenuhnya, aku melihat wanita yang berada pada kamar itu menyuapi ayah. Refleks ku mengernyitkan dahi dan menampakkan wajah masam.
Aku melihat wajah ibu yang sedikit menyesal. Dia menarikku dengan paksa. Aku tidak dapat mengikuti langkahnya yang cepat. Namun tiba-tiba dia berhenti dan meletakkan tangan kanannya didepan dada. Tangan kanannya mencengkeram dada sebelah kanannya dengan kuat. Matanya tertutup rapat seperti menahan rasa sakit. seketika tubuhnya jatuh tersungkur tak berdaya. Aku tak mengerti apa yang terjadi padanya. Aku hanya panik menjerit meminta pertolangan segera datang.
***
Komentar
Posting Komentar