BANGAU SORE BERBICARA | Bagian delapan


“Maafkan aku … ” Mata Lintang memerah, tangan kanannya menutup sebagian wajahnya, tepat pada kedua matanya. Ia menyandarkan pungggung ke dinding tepian pintu menuju tangga. Perlahan badannya melemah, punggungnya merendah menggesek dinding hingga ia terduduk dengan kaki yang setengah melipat. Tangan kirinya merangkul kedua kakinya sedang tangan kanannya menyangga kepala yang matanya memejam. 

Lama ia duduk termangu. Renungannya bubar setelah sebuah benda metalik bergetar di saku celananya. Ia mengangkat kepala yang bertopang tangan kanannya dan merogoh sakunya. Ia memperhatikan layar ponsel yang bergambar dirinya dengan seorang pria. Matanya berair setelah matanya terfokus pada sosok pria itu. Jempolnya mengusap foto wajah pria yang ada di sampingnya. Menyadari dirinya yang merasa pilu, ia langsung menghapus air mata dan pergi meninggalkan ruangan tanpa atap itu.

Lintang menuruni tangga dengan santai. Tangannya masih menggenggam ponselnya yang berwarna abu-abu. Dari arah tangga ia melihat wanita sedang sibuk mencari-cari sesuatu di taman. Ia paham dengan wanita itu. Wanita dengan rambut hitam terurai kebelakang serta badannya yang ramping nan mungil. Itu Amira. Sepertinya kertas yang Lintang lempar tadi sangat penting. Amira membuka bunga-bunga yang menyemak tak terawat hingga terduduk disamping bunga liar itu. Apakah Amira sudah lelah? Apakah Amira masih marah dengan Lintang? Itu yang saat ini ada di pikiran Lintang. Lintang mencoba membantu Amira. Ia tahu betul bentuk, warna, dan tempat jatuhnya pesawat kertas buatannya. Sekali matanya menjelajah taman, ia langsung menemukan pesawat kertas itu.

“Ketemu!” Lintang langsung mengambil pesawat kertas yang letaknya lima meter dari punggung Amira. Kertas lipat itu tertutup tanaman yang tingginya selutut Lintang.

Lintang berjalan perlahan mendekati Amira yang terduduk lemah. Ia menepuk pundak Amira. Sontak Amira membalikkan wajahnya. Lintang menyerbu pipi kirinya dengan telunjuknya seperti mencocok. Tentu saja Amira akan marah walaupun hanya memperlihatkan wajah buasnya. Berbeda dengan Amira, Lintang selalu tersenyum membalas kesinisan wanita mungil itu.

Tanpa ada ucapan terimakasih, Amira langsung merebut kertas yang ia cari dan meninggalkan Lintang. Lintang memaklumi itu karena dia tahu kesalahannya. Tapi tetap saja Lintang adalah manusia yang percaya diri dan bicara tanpa berpikir itu sudah biasa baginya. Hal itupun membuat Amira sangat kesal. Bagaimana tidak, perkataan Lintang membuat semua orang melihat kearah mereka. Amira takut ada kesalahpahaman.

Amira berjalan balik mendekati Lintang. “Ikuti aku!” Lintang menuruti Amira.

Mereka berada di tempat yang jauh dari keramaian.“Jangan pernah ganggu aku dan jangan pernah temui aku lagi. Menjauhlah dari kehidupanku. Kamu hanyalah orang aneh yang berbicara tanpa berpikir.” Mata Amira menatap lingkaran hitam mata pria yang menyebalkan baginya. Kedua tanggannya tergantung mengepal sangat kuat. Kepalanya sedikit mendongak karena tubuhnya yang lebih pendek dari Lintang.

“Aku tidak tahu maksud pendamping itu dan aku tidak ingin mengetahuinya.”

“Aku akan menjelaskannya.”

“Aku tidak mengenalmu dan aku tidak butuh penjelasanmu.”

“Aku Lintang sahabatnya Elang.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SENJA MERONA

INDAH DIMATA-NYA

MENELAN DUSTA