BANGAU SORE BERBICARA | Bagian dua
“Mati seperti dia.”
Mata bulatnya terbuka kembali. Tangan kanannya masih melambai pelan mengisyaratkan bahwa mereka tak akan pernah bertemu lagi. Sedikit demi sedikit wajahnya berpaling dari sang bangau, pandangannya mengarah ke langit biru yang terhampar luas. Kelopak matanya masih refleks turun menahan hantaman angin yang bertiup landai.
Wanita dengan tubuh yang masih bersandar pada pagar pembatas itu mengembuskan napas lagi. Tangannya mulai merogoh tas yang menggantung di pundak kirinya, berharap ia menemukan alat elektronik yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Ia tak juga menemukannya. Satu persatu barang yang ada dalam tas itu ia keluarkan dan diletakkannya pada pagar pembatas, mulai dari bolpoin, buku kecil, semua alat make up yang ia miliki sampai pada yang terakhir yaitu lipstik. Ia baru menemukan ponsel yang dibaluti case berwarna hitam dan bergambar kucing kecil berwarna kuning.
Matanya menyipit ketika melihat jam pada ponselnya sudah mengarah pada angka 15. Tak berpikir panjang, ia langsung membereskan barang-barangnya yang berjejer diatas pagar pembatas. Ketika ia meraih lipstiknya, buku kecil bertuliskan nama Amira Larasati jatuh melesat tersenggol siku kanannya. Oh tidak, itu adalah buku harian milik Amira. Buku itu tidak jatuh ke dasar lantai satu, namun tersangkut pada atap tembok yang berada di balik pagar pembatas. Amira tidak akan berpikir untuk melompati pagar yang tingginya mencapai dadanya. Lagi pula atap tembok yang ada di balik pagar itu hanya selebar 75 cm. Bagaimana jika ia terpeleset dan badannya terpental kebawah. Amira menggeleng-gelengkan kepalanya yang otaknya berpikir tidak-tidak. Amira masih ingin hidup. Itu yang saat ini ada di pikirannya. Tapi bagaimana dengan nasib buku kecil itu. Bagaimana jika orang lain menemukannya. Terbongkar sudah rahasia Amira selama ini. Dilema mulai menguasai dirinya. Amira menampakkan wajah masam, tangan kanannya berusaha meraih buku kecilnya, sedangkan tangan kirinya menahan ia agar tidak terjatuh.
“Kamu ingin mati?” Seseorang memaut pundak Amira. Amira yang terkejut atas genggaman pundaknya menoleh kearah sumber suara.
“seberapa besar masalahmu hingga ingin mengakhiri hidup seperti itu?” Seorang pria bertubuh jangkung dengan dahinya yang mengerut bertanya lagi. Amira hanya melihat ekspresi wajah pria itu dan tangannya yang masih pada pundak Amira.
“Bukan urusanmu, lepaskan ini.” ucap Amira dengan dagu yang menunjuk pada pegangan sang pria pada pundaknya.
“Bagaimana aku akan melepasnya jika kamu masih bersikeras ingin bunuh diri.” Genggaman pria itu makin kuat. Amira menghela napas dalam-dalam dan mengeluarkannya paksa. “Bunuh diri?” Amira menoleh pada sang pria dan menyipitkan matanya. Pria itu menatap Amira aneh.
“Ya aku merencanakan itu. puas?”
Komentar
Posting Komentar