BANGAU SORE BERBICARA | Bagian empat


“Aku Lintang.”

Lintang masih mengulurkan tanganya kehadapan Amira. Amira sedikit mencuri pandang pada Lintang. “Lalu?” Tanya Amira. Lintang hanya tersenyum dan menggeleng.

“Kamu Amira kan?” Lintang mulai menurunkan tangannya. 

Amira menatap sinis. “Bukan.” Jawabnya singkat.

“Kalau begitu itu bukan bukumu.” Amira mengerutkan dahi, ia menyembunyikan tangannya yang memegang buku kecilnya kebelakang. 

“Aku Lintang dari prodi* Fisika.”

“Aku tidak Tanya.”

“Aku memberi tahu.”

“Bukan urusanku.” Amira mulai melangkah menginggalkan Lintang.

“Amira!” langkah Amira terhenti. “Esok temui aku di sini pada waktu yang sama. Ada yang ingin ku sampaikan.” Amira menolehkan wajahnya ke arah posisi Lintang saat itu. Lintang sudah berjalan membelakangi Amira. “Gak jelas banget sih.” Gumam Amira kesal.

***

“Apa yang sedang kulakukan? Amira … kau sudah gila ya?” Amira mendesah. Punggungnya sedikit menyender di pagar pembatas gedung berlantai lima. Ya, dia datang ke atap itu untuk mengiyakan ajakan Lintang kemarin sore. Seperti biasa, tangannya sibuk melipat kertas yang penuh coretan tak berguna hingga membentuk sesuatu. Kertas itu diambil dari binder yang dihimpit oleh lengan atas bagian kiri dengan tubuh bagian sampingnya. Ia fokus pada apa yang dikerjakannya hingga tak sadar jika Lintang sudah berada disampingnya.

“Aku tidak menyangka kamu akan datang.” Suara Lintang mengagetkan Amira hingga menjatuhkan bindernya. Amira sedikit menoleh pada Lintang dan kembali fokus pada origaminya. 

“Kamu suka membuat origami?” Amira hanya diam.

“Wah … kamu membuat bangau?” Tanyanya lagi dan Amira tetap diam.

“Aku juga bisa. Lihat ya.” Lintang memungut binder Amira yang jatuh. Ia langsung membukanya  dan mengambil selembar kertas didalamnya secara acak. “Tunggu.” Amira berusaha menghentikan Lintang yang asal mengambil kertas di bindernya. Namun ia gagal, Lintang dengan sigap membuat origami membentuk sebuah pesawat terbang, meniupnya layaknya memberi sebuah amunisi pada pesawat itu dan menerbangkannya.

“Kamu gila ya?” Tanya Amira kesal. 

“Tidak, memang kenapa?” Mulut Amira mendecak. “Memangnya kamu siapa seenaknya merobek kertas orang? Dasar bodoh!” Ia langsung merebut binder yang ada ditangan Lintang dan meninggalkannya.

“Amira!” Seru Lintang. Amira berjalan tak peduli.

“Aku Lintang, pendampingmu.”


*Program studi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SENJA MERONA

INDAH DIMATA-NYA

MENELAN DUSTA