BANGAU SORE BERBICARA | Bagian enam
Lintang mencengkeram kuat lengan atas kanan Amira. Ia terdiam ketika air mata Amira mengalir membasahi pipi lucunya. Tangannya berusaha menggapai pipi Amira berharap bisa menghapus luka yang telah membuat Amira bersedih. Usahanya itu terhenti ketika Amira memalingkan wajahnya dari Lintang. Lintang pun mengurungkan niatnya dan melepaskan cengeramannya setelah sadar bahwa ia membuat Amira tidak nyaman. Ia melihat reaksi Amira yang berlari meninggalkannya sendiri di atap. Wajah Lintang pun turut merenung.
“Maafkan aku … ” Mata Lintang memerah, tangan kanannya menutup sebagian wajahnya tepat pada kedua matanya. Ia menempatkan badannya dengan melipat kedua lutut dan bertumpu pada telapak kakinya.
Dalam hati Lintang ia sangat senang ketika menemukan Amira di atap. Ia tak menyangka jika Amira mengiyakan keinginan manusia yang belum dikenalnya baik. Ia tahu jika perasaan Amira tak karuan, dan dengan usahanya ia mencoba membuat hati Amira kembali bahagia. walaupun akhirnya gagal. Sayangnya ia tak begitu kenal dengan sosok Amira. Ia pertama kali bertemu Amira saat setelah bangau kertas bertuliskan nama Amira mendarat diatas pangkuannya kemarin sore. Kertas usang penuh dengan coretan-coretan yang menutupi tulisan. Sepertinya hitam diatas putih itu adalah sebuah surat. Surat yang ditujukan kepada sesesorang yang namanya tertera di kertas itu. Nama itu adalah Elang.
***
“Manusia bodoh.” Gumam Amira sembari mengusap air mata di pipinya.
“Mengapa aku harus mengiyakan ajakan pria menyebalkan itu kemarin?” matanya menelusuri taman mencari selembar kertas membentuk pesawat terbang. Badannya sedikit membungguk. Tangannya membuka bunga-bungaan menyemak yang tak terurus. Sudah menit ke lima belas setelah ia meninggalakan Lintang, ia tak kunjung menemukan kertas pentingnya. Amira mengembuskan napas pasrah. Perlahan ia merendahkan badannya dan menekuk kedua lututnya hingga terduduk disamping bunga liar itu. Ia menatapnya dengan kosong. Kalimat yang dilontarkan oleh Lintang lima belas menit lalu mulai terngiang di telinganya deolah-olah merasuki pikirannya.
“Mengapa aku harus mengiyakan ajakan pria menyebalkan itu kemarin?” matanya menelusuri taman mencari selembar kertas membentuk pesawat terbang. Badannya sedikit membungguk. Tangannya membuka bunga-bungaan menyemak yang tak terurus. Sudah menit ke lima belas setelah ia meninggalakan Lintang, ia tak kunjung menemukan kertas pentingnya. Amira mengembuskan napas pasrah. Perlahan ia merendahkan badannya dan menekuk kedua lututnya hingga terduduk disamping bunga liar itu. Ia menatapnya dengan kosong. Kalimat yang dilontarkan oleh Lintang lima belas menit lalu mulai terngiang di telinganya deolah-olah merasuki pikirannya.
“Aku Lintang, pendampingmu.”
Komentar
Posting Komentar