BANGAU SORE BERBICARA | Bagian lima


“Kamu pandai membuat bangau kertas ya?” Amira terkesima melihat keliahaian tangan teman satu jurusannya. Dalam lima menit temannya itu sudah membuat lima bangau kertas. Elang, begitulah Amira memanggil nama temannya itu. Elang sudah menjadi kakak sendiri bagi Amira, selain usianya satu tahun lebih tua, Elang juga memiliki sifat yang selalu perhatian kepada Amira.

“Nih.” Elang menyodorkan lipatan kertas yang masih sederhana. Tangan Amira terhenti bergerak yang sebelumnya sibuk menulis tugas. “Sini, aku juga bisa.” Amira menyerobot kertas dari tangan Elang dengan lagaknya.

“Hahaha … kamu kalau tidak bisa jangan sok deh.” Amira mengerucutkan bibirnya setelah mendengar ejekan sahabatnya. “Nih … lihat baik-baik.” Elang memberi arahan pada Amira. Amira memperhatikan gerakan tangan Elang dengan seksama. “Yeay, jadi.” Amira mengangkat tangannya yang memegang bangau kertas buatannya dengan senyuman lebar terlukis di wajahnya.

“Coba kamu bebaskan bangau itu ke udara.”

“Tidak mungkin dong, kalau kakak membuat pesawat terbang itu mungkin bisa.”

“Aku menyuruhmu melepaskannya bukan menerbangkannya.” Mulut Amira tak berkutik mendengar ucapan Elang. “Aku tak akan melepaskannya.” Ucapnya sembari menurunkan tangannya.

“Aku juga tak akan melepaskanmu.” Amira menoleh tanpa suara. Amira memandang Elang yang sibuk bermain bangau kertas hingga mata mereka bertemu pada satu titik. Elang menyunggingkan senyum manis di bibir tipisnya.

“Aku juga akan selalu disampingmu.” Tambah Elang.

***

“Aku Lintang, pendampingmu.”

Langkah Amira terhenti seketika. Pikirannya melayang kemana-mana. Lintang berjalan cepat menuju Amira. Tangan kirinya menarik lengan atas Amira dengan kuat. Amira tersentak hingga badannya membalik kehadapan Lintang. Lintang melihat butiran bening turun dari sudut mata dan melewati pipi Amira yang tembam.

“Kamu … ” Air mata Amira semakin meleleh. Ia menangis tersedu-sedu. Lintang menggapai wajah Amira berusaha menghapus air mata yang membasahi pipi lucu Amira. Amira memalingkan muka menghindar dari sentuhan tangan Lintang. Amira mencoba melepas cengkeraman tangan Lintang namun gagal. Lintang yang menyadari ketidak nyamanan Amira segera melepas genggamannya. Kurang dari lima detik Lintang sudah berdiri sediri di atap. Amira langsung berlari ketika Lintang melepas genggaman lengan atasnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SENJA MERONA

INDAH DIMATA-NYA

MENELAN DUSTA