BANGAU SORE BERBICARA | Bagian satu


Hanya kesenduan yang terasa. Tidak, lebih tepatnya kehilangan. Sesuatu yang hilang telah membuat wajah manisnya terlihat sendu. Ia menyandarkan sebagian tubuh bagian depan dengan kedua siku tangan yang menumpu pada pagar pembatas atap gedung bertingkat lima. Bola matanya menatap langit biru yang dilengkapi gumpalan awan putih berarak. Tangannya sibuk berkreasi, melipat selembar kertas usang dan penuh coretan hingga membentuk seperti unggas yang mana leher dan paruhnya panjang. Ia menyebutnya bangau. sesekali matanya melirik ketangannya. ia membolak-balikkan karya seni origami yang berbentuk bangau itu dan mencermati setiap sudut lipatan kertasnya. Mendapati karyanya yang sudah tercipta apik setelah sentuhan akhir, wanita dengan rambut berwarna hitam pekat itu meletakkan bangau kertas disamping siku kanannya tepat diatas pagar pembatas yang terbuat dari batu bata.

Perlahan ia mengembuskan napas panjang. “Terbanglah!” Ia menoleh pada bangau kecil itu. sebagian wajah mungilnya tertutup oleh rambut yang berterbangan tertiup angin.

“Selamat tinggal bangau, berterimakasihlah kamu pada angin, yang bilamana tidak ada ia mungkin kamu akan diam disini sampai hari esok yang akhirnya akan selalu misteri.” Ucapnya sembari tangannya melambai kepada si bangau yang terbang menjauh.

“Jika tidak ada angin kamu akan tetap sendiri disini. Kesepian akan menghantui dirimu. Kamu akan tetap diam disini. Karena kamu itu mati.” Lanjutnya.

“Ya … mati seperti dia dan sepi seperti diriku.” Wanita berambut hitam terurai kebelakang itu pun terdiam memandang bangau yang terombang-ambing diterpa angin. Kelopak matanya turun memejamkan mata. Sesekali matanya berkedip menahan hantaman angin yang bertiup landai. 

“Mati seperti dia.”

Photo by Nafida N


#tantangan pekan 4

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SENJA MERONA

INDAH DIMATA-NYA

MENELAN DUSTA