BANGAU SORE BERBICARA | Bagian dua belas
"Apakah kamu benci sore?" sebuah pertanyaan yang susah mudah dijawab oleh Amira.
"Aku tidak membenci nya, hanya saja aku tidak terlalu suka dengannya, karena sore selalu datang bersama orang-orang yang membawa lelahnya." jawab Amira.
"Kamu hanya melihat pada satu sisi saja. Coba kamu lihat sisi lainnya. Kamu tahu fotografer? Mereka tidak akan mengambil sisi yang dilihat oleh manusia kebanyakan. Mereka punya sisinya sendiri yang disebut angle." lelaku yang usianya berada satu tahun diatas Amira menjelaskan pendapatnya sambil mengacungkan jari telunjuk yang tak mengarah pada apapun.
"Ya, ya, ya, aku juga tahu itu kali kak."
"Kalau tau kenapa tidak coba? "
"Coba apanya?"
"Melihat sisi yang berbeda. Coba pikirkan."
"Aku sedang tidak ingin berpikir. Kalu begitu bagaimana pendapat kakak tentang sore?"
"Sore adalah tempat kita kembali, bukankah kita pulang saat sore hari? "Amira menjawabnya dengan mengangguk.
"Dari pulang itulah, kita pasti akan berkumpul dengan sanak saudara, keluaraga, dan sahabat lainnya. Jika kita sendirian pun, kita bisa menikmati kesendirian kita, dengan cara apa? Istirahat tentunya. Ya ... Sore adalah tanda menuju hari yang petang, dimana semua insan akan tertidur melupakan semua yang dilakukan sebelumnya. Mereka akan beristirahat, setidaknya satu atau dua jam mereka tidak tegang dengan urusan duniawi. Oya bukan?" tuturnya.
"Aku tau jika kakak berargumen demikian, aku juga paham maksud kakak itu apa, tapi setiap orangkan berbeda-beda. Mungkin saja dia ssperti ku, tidak suka dengan sore." sanggah Amira.
"Makanya jangan coba-coba bawa orang lain jadi sepertimu. Kamu juga setidaknya sedikit saja coba sukai sore hari. Dia akan bersedih jika mendengarnya." Amir Hany mengangguk-angguk mengiyakan perkataan pria itu.
"akan kucoba."
"Oke, aku juga akan menunjukkanmu sesuatu. Sesuatu yang tidak akan kamu sesali."
"Baiklah, kutunggu sesuatu itu datang ya ..."
***
Tawa canda hari itu terlintas di tatapan hampa Amira. Ia masih fokus memandang wajah Lintang tanpa berkedip.
"Hei, kamu dengar aku atau tidak?" Lintang mememetik jari-jari kanannya tepat didepan mata Amira. Amira mulai bekedip-kedip cepat dan mberikan senyuman pada Lintang.
Lintang keheranan dengan ekspresi Amira yang tiba-tiba.
Komentar
Posting Komentar