BANGAU SORE BERBICARA | Bagian sepuluh


"Kamu akan menyesalinya jika tidak mengikuti perkataan ku karena ini demi Elang."  ucapan Lintang kemarin masih bergema di telinga Amira. Benarkah seseorang bernama Lintang itu mengenal Elang. Apa yang sebenarnya terjadi? Semua prasangka mulai berputar di kepala Amira. 

Akhirnya hari ini datang. Amira sudah menanti dari semalam. Lebih tepatnya ia menanti jawaban yang membuatnya penasaran. Ia mengikuti permainan Lintang. Ia mengiyakan segala permintaan Lintang selagi ia bisa. Ia percaya Lintang tidak akan meminta hal aneh jika ia benar-benar sahabat Elang. 

Amira membuntuti Lintang. Kakinya hanga melangkah mengikuti arah langkah Lintang. Kepalanya menunduk, matanya menantap fokus sepatu berwarna jingga milik Lintang. Kaki bersepatu jingga itu tiba-tiba menghentikan langkahnya. 

"Disini." Amira sontak ikut berhenti. Ia mengangkat sedikit wajahnya melirik paras elok Lintang. Amira mengangkat kedua alisnya. 

"Tuh. Lihat." Lintang menujuk sesuatu dengan dagunya. Mata Amira sedikit menyipit.

"Apaan? Hanya bangunan saja kampus saja. Sebenarnya apa sih yang ingin kamu sampaikan, bisakah kamu tidak perlu basa basi?" mulut Amira mulai mengomel. Sepertinya dirinya sudah lelah mengahadapi pria itu. Sia-sia saja di menggunakan waktunya hanya untuk menuruti pria tidak jelas itu. 

"Kembalikan sepuluh menit berhargaku ..." gumam Amira. 

"Memang, lalu?" Lintang bertanya balik. 

Oh tuhan jangan Kau gunakan pria tanpa perasaan ini sebagai penyampai pesan Elang. Tidakkah ada manusia yang lebih baik darinya? Setidaknya dia tidak bertele-tele. Itu saja. Amira merengek tiada henti dalam hatinya. Berharap pria itu berubah menjadi manusia bukan bernama Lintang dan bukan bertubuh Lintang, tentunya juga bukan mamusia yang tidak berperasaan seperti Lintang. 

"Tidak apa. Sudah hanya itu? Cepat katakkan apa yang ingin kau sampaikan tentang Elang,  wahai lintang."

"Temui aku disini esok jam 5 sore. Aku pergi dulu ya." pria itu pergi begitu saja. Amira menatap kepergian pria bersepatu jingga. 

"Amira sabarlah sedikit ... Setelah tahu apa yang ingin dia sampaikan, cepat pergi dan lupakan pria gila itu, sebelum kamu menggila." jari telunjuk kanan Amira menepuk-nepuk pelipisnya dengan pelan. 

"Segera lah menghilang wahai lintang!"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SENJA MERONA

INDAH DIMATA-NYA

MENELAN DUSTA