BANGAU SORE BERBICARA | Bagian tiga


“Ya aku merencanakan itu. puas?”

Pria bertubuh jangkung mengernyitkan dahinya lagi. Mulutnya berdecak. “Dasar bodoh.” Ucap sang pria. Ia melepas genggaman pundak Amira dengan kasar dan membuat Amira merintih kesakitan. Amira menggigit bibir bagian bawah. “Bodoh?” Pria itu memalingkan wajahnya dari tatapan masam Amira.

“Kalau itu pilihanmu ya sudah, terserah kamu.” Kaki panjang pria jangkung itu melangkah menjauh dan memunggungi Amira. Amira yang keheranan dengan pria aneh itu tak mengiraukannya, ia kembali meraih buku kecil yang tersangkut pada atap tembok sebelah pagar pembatas. Tangannya yang pendek tak sampai untuk meraihnya.

“Kamu itu memang bodoh ya?” suara pria itu muncul kembali. Amira tetap tak mempedulikannya, ia hanya fokus apa yang ia lakukan. Sang pria tercengang dengan kelakuan aneh Amira. Matanya tak sengaja mendapati sesuatu yang Amira raih. Ia melirik sedikit wajah Amira dari samping yang terlihat meminta pertolongan.

“Minggir.” Pria itu meraih tangan Amira dan menariknya. Ia merubah posisi badannya yang berdiri disamping Amira jadi seperti akan memanjat pagar pembatas. Amira terperanjat dengan kelakuan sang pria. “Kamu mau ngapain?” Pria  itu terdiam sejenak. 

“Kau diam saja.” Pria itu mulai memanjat pagar dengan hati-hati. Wajahnya terlihat waswas. Tangannya meraba pagar dan memegangnya kuat. Amira hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata sambil menatap pria itu dengan memasang wajah yang khawatir. Pria jangkung itu akhirnya mendapati apa yang Amira inginkan. Ia melompat pagar dengan hati-hati.

“Nih … ” Pria itu menjulurkan tangannya yang membawa buku kecil Amira. Amira masih terdiam memandang buku pada tangan pria bertubuh jangkung itu. Matanya berkedap-kedip dengan cepat, ia bingung akan berkata apa. Amira mengambil bukunya dari genggaman sang pria.

“Memangnya seberapa penting buku itu?” Amira mulai mengangkat wajahnya. “Bukan urusanmu.” Jawabnya sembari membalikkan badan dari hadapan pria jangkung itu.

“Begitu caramu berterimakasih kepada orang yang telah mempertaruhkan nyawanya demi buku kecil usang mu itu?” Amira mengela napas dan mebalikkan tubuhnya lagi. “Terimakasih.” ia mengucapkan kata itu dengan pelan. 

“Aku Lintang!” seru sang pria yang tangannya sudah terulur kehadapan Amira. Amira sedikit melirik wajah pria yang bernama Lintang. Bibir Lintang tersenyum manis. Indah sekali tuk dipandang. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SENJA MERONA

INDAH DIMATA-NYA

MENELAN DUSTA