BANGAU SORE BERBICARA | Bagian tujuh
Tatapan matanya kosong. Kalimat itu terngiang di telinga Amira. Kalimat yang dilontarkan Lintang sebelumnya seolah-olah merasuki pikirannya. Ia mengembuskan napas kesekian kali. Tantapan hampanya mendatangkan bayang-bayang wajah pria yang sampai saat ini ia simpan di memori otaknya. Pria itu selalu memberikan perhatian lebih pada Amira, yang mana mungkin dapat mendatangkan kesalahpahaman. Namun Amira hanya menggagpnya sebagai kakak. Memanggil namanya saja ia selalu menyelipkan kata ‘kak’. Kak Elang. Walaupun mereka pada jurusan yang sama dan angkatan yang sama pula.
Amira mengenal Elang dua tahun yang lalu tepat masa orientasi mahasiswa. Kala itu Amira bingung dengan teka-teki yang diberikan kakak panitia. Dengan besar hati tiba-tiba seorang pria berkulit sawo matang yang duduk disamping kanannya menuliskan sesuatu menggunakan tangan kiri. Itulah pertemuan Amira dan Elang pertama kali.
Pertemuan selanjutnya pada saat kelas bahasa Indonesia. Amira yang sedang tidak enak badan, terus batuk-batuk memecah kesunyian kelas. Tiba-tiba dari arah belakang tangan berkulit sawo matang meletakkan air mineral di meja Amira. Amira terkejut, refleks ia menoleh kearah datangnya tangan itu. Ia tak menyangka jika akan satu jurusan dengan pria yang membantunya saat orientasi mahasiswa lalu. Kemana saja selama ini kamu Amira, kenapa sampai tidak mengetahui teman satu jurusan sendiri. Maklum jika ia tak tahu, karena terdapat 80 mahasiswa dalam jurusannya.
Semua ingatan tentang Elang muncul kembali. Bayang-bayang Elang berjalan kesana kemari pada tatapan kosong Amira. Yang Amira ingat hanyalah kenangan indahnya bersama Elang. Karena tak ada kenangan buruk yang ditinggalkan oleh Elang. Amira memejamkan matanya. Hidungnya menghirup udara dalam-dalam dan mengeluarkannya dari mulut secara perlahan. Sedikit demi sedikit matanya terbuka. Ia terperanjat ketika sesuatu menghantam pundak kirinya. Sedikit Amira menolehkan kepalanya, ada tangan berkulit sawo matang mendarat di atas pundaknya. Amira segera membalikkan badan dan pipinya terkena sundulan jari telunjuk orang yang mengagetkannya. Alisnya hampir bersentuhan karena dahinya terlalu mengkerut setelah mengetahui siapa yang menepuk pundaknya. orang itu tersenyum melihat wajah buas Amira.
“Nih, aku menemukannya.” Orang berkulit sawo matang itu menyodorkan kertas usang yang Amira cari. Tanpa mengeluarkan sepatah kata Amira langsung merebutnya dan meninggalkannya.
“Amira ingat, aku akan mendampingimu!” orang itu berseru lagi seperti sebelumnya. Ya, ia adalah Lintang yang melemparkan dan menemukan kertas usang Amira tadi. Semua mata tertuju pada Lintang dan Amira yang jaraknya satu setengah meter dari hadapan Lintang.
Komentar
Posting Komentar