Nge-Beach Camp di Pantai Drini Gunung Kidul Yogyakarta | bagian tiga
Selamat datang kembali di blog laman-nafida. Masih pada judul “Nge-Beach Camp di Pantai Drini Gunung Kidul Yogyakarta” masih seperti postingan sebelumnya yang judulnya sama nih dimana aku menggunakan gaya bahasa yang sedikit sok kenal sok dekat. Tak apa lah ya, aku memang ingin pembaca terasa lebih dekat denganku kok. Itu jujur dari hati yang terdalam loh …
Oke, kita lanjut dari cerita yang sebelumnya ke carita selanjutnya. Setelah keberangkatan kami menuju pantai Drini yang sedikit mendrama itu, kami mulai menikmati malamnya jalanan Yogyakarta. Eh, sepertinya aku doang deh, tidak tau kalau yang lainnya (ehehehe). Perjalanan kami memakan waktu tempuh selama kurang lebih 2 setengah jam. Karena kami berangkat tepat ba’da maghrib (anggap saja pukul 18.30 WIB, waktu Indonesia biasa molor) dan sampai di tujuan kira-kira pukul 21.00 WIB, aku tidak tahu tepatnya kapan. Karena daku menebeng teman dan tidak menyetir, jadi maklum kalau kadang-kadang kantuk menggelayuti diriku. Selain itu, jalanan menuju Gunung Kidul itu seperti … naik-naik kepuncak gunung tinggi-tinggi sekali. Maksudnya jalannya belok-belok. Namanya juga Gunung Kidul.
Oke, sesampainya di tujuan, kami langsung mendirikan tenda yang kami dapatkan dari sewaan. Aku tak tau mereka menyewa dimana (ehehe). Setelah tenda berdiri kokoh, kami mulai tuh makan malam bersama, terasa nikmat karena perut sudah berdemo kelaparan. Seusai makan bersama, kami langsung beristirahat ‘leyeh-leyeh’ sembari bernyanyi bebarengan yang diiringi permainan gitar seorang pria tinggi yang usianya sekitar tiga tahun diatasku.
Tak terasa tengah malam pun tiba. Semilir angin laut juga tak ingin ketinggalan untuk menyapa kami. Waktu bincang tengah malah yang sudah menjadi bagian dari agenda perjalanan pun telah datang. Kami mulai duduk berkumpul membentuk lingkaran dibibir pantai sembari menikmati kesunyian malam pantai Drini. Satu persatu dari kami mulai mencurahkan isi hatinya tentang organisasi yang selama ini di pendam, aku pun turut ikut dalam hal itu. ketika aku mulai berbicara, jujur saja aku tak berani menghadap mereka, aku lebih memilih melihat ombak tenang menuju dataran. Walaupun kadang aku sesekali melihat wajah-wajah lesu mereka.
Sesi bincang tengah malam pun berakhir. Sedikit dari kami beranjak dari tempat singgah tadi. Namun tidak dengan diriku. Aku masih nyaman duduk bersantai mendengarkan ombak kecil dengan mata yang memandang bulan serta bintang bertaburan di langit yang membentang luas. Sungguh indah ciptaan tuhan sang maha kuasa.
Perjalanan ini belum usai. Aku masih ingin bercerita tentang nge-Beach Camp di pantai Drini itu. keseruan keseruan berkumpul dengan keluarga yang bukan sedarah. Ikuti terus postingan ku berjudu “Nge-Beach Camp di Pantai Drini Gunung Kidul Yogyakarta” di laman-Nafida. Yeayy …
Komentar
Posting Komentar