SOSOK IBU YANG BERBEDA
Bagian Empat.
Rismi menatap kosong kearah teman-temannya. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Sadar dengan ucapan tak sedap para ibu dari teman-temannya, ia mulai membuka pembicaraan.
“Saya akan mempersembahkan puisi berjudul ibu, tapi saya tau jika ibu saya tak akan datang menemani saya disinii. Saya juga tau jika ayah yang akan datang menggantikannya. Oleh karena itu Saya tidak ingin menunjukkan persembahan itu untuk ayah.” Ayah Rismi kaget dengan ucapan anak satu-satunya itu. ia langsung mengangkat wajahnya yang murung memandang wajah mungil Rismi.
“Memang ayah yang membuat ibu saya mati tak berdaya. Tapi bukan berarti dia orang tua yang tak peduli dengan saya. Awalnya saya mengira jika ayah tak mengharapkan kehadiran saya yang akhirnya membuat saya benci padanya. Tapi ketika air mata saya jatuh didepan makam ibu, saya melihat air mata tulusnya juga meleleh membasahi makam ibu. ayah berusaha sekuat tenaga untuk membuat saya berdiri, menegakkan badan saya, dan mengusap air mata saya.” Ruang kelas yang tadinya ramai menjadi senyap seketika.
"Nenek saya tua renta dan keluarga yang saya miliki hanya ayah seorang. Saya tidak dapat merasakan rasa sakit yang di pendam ibu selama ia masih bernapas, yang saya tau hanyalah orang yang membuat ibu saya menderita. Orang itu adalah ayah." Rismi berbicara tanpa ada rasa takut. Ayah Rismi tak kuasa memandang wajah lesu gadis kecilnya. Ibu guru terlihat mempertahankan posisi kepalanya dengan menoleh ke kiri melihat Rismi berdiri, namun tatapan matanya tak mengarah pada gadis malang itu. Penghuni lain dalam kelas itupun masih diam membisu.
"Ayah saya pembunuh. Itu hanya dugaan saya ketika terperanjat hingga menjadikan raga terpaksa menerima kenyataan bahwa ibu tiada. Tapi nyatanya hati menolak luka kesedihan yang digoreskann oleh ayah." Rismi mulai melihat laki-laki berumur 40 tahunan yang duduk di bangku belakang pojok sebelah kanan dari hadapannya.
"Ayah selalu ada mulai dari saya bangun hingga tertidur kembali. Ayah selalu menyembunyikan kepedihannya. Dia orang yang perkerja keras, sabar, dan perhatian. Melakukan segala sesuatu yang pada umumnya dilakukan oleh seorang ibu. Mulai dari memasak, mencuci, membersihkan rumah sederhana kami, mengantar saya kesekolah, menemani saya belajar, hingga mendongeng ketika hendak tidur." Butiran bening mulai jatuh membasahi pipi penghuni ruangan. Sang ayah mulai menampakkan wajahnya, matanya merah berair.
"Ayah adalah ayah yang sekaligus ibu bagi saya. Ayah bukan orang jahat. Sayalah yang jahat, seorang anak yang durhaka berprasangka bahwa ayahnya sendiri adalah pembunuh dari ibunya. Maaf kan Rismi ayah ... Terimakasih telah menjadi ibu bagi Rismi." Suara Rismi bergetar. Dirinya sudah tak tahan menahan kesedihan. Tangan kanannya meraih wajah dan menutupinya. Punggungnya membungkuk sedikit. Dikala keheningan menguasai ruangan itu, tiba-tiba suara gesekan kaki bangku terdengar. Hentakan dari sepatu usang milik Ayah Rismi memecah kesunyian. Ayah Rismi yang sedari tadi air matanya sudah meleleh, berlari mendekati Rismi. Meraih tubuh Rismi dan mendekapnya hangat penuh kasih sayang. Jepit rambut berbentuk pita berwarna pink yang menghiasi rambut Rismi sudah tak memberi kesan indah lagi. Rambut hitam Rismi basah terkena tumpahan air mata sang Ayah. Rismi membalas pelukan ayahnya dengan tangan kirinya yang lemas tak berdaya.
"Ayah, maafkan Rismi."
Komentar
Posting Komentar